Contoh Teks Ceramah Khutbah Jumat Bulan Ramadhan - Mengungkap Rahasia Lailatul Qadar

Advertisement
Advertisement
Contoh Khutbah Bulan Ramadhan Lengkap - Lailatul Qadar adalah merupakan suatu keistimewaan dari Alloh yang dikhususkan untuk umat islam. Banyak sekali keistimewaan yang terdapat pada Lailatul Qadar, diantaranya adalah diampuninya semua dosa yang telah lalu dan dosa yang akan datang. Malam ini sebanding dengan 1000 bulan keistimewaannya dan bagi orang mukmin yang melaksanakan ibadah pada malam ini insya Alloh akan mendapat ampunan dan kasih sayang Alloh.

Terjadinya malam lailatul qadar para ulama berbeda pendapat, ada yang menyebutkan pada malam tanggal 17 Ramadhan, atau yang paling rajih dari tanggal 20 sampai akhir bulan ramadhan. Yang pasti terjadinya malam lailatul qadar adalah semata-mata rahasia Alloh yang tidak ada satupun manusia mengetahui dengan pasti. Dengan demikian dalam pelaksanaan ibadah kepada Alloh kita senantiasa setiap saat.

Baiklah pada kesempatan ini saya akan menuliskan Contoh Khutbah Bulan Ramadhan - Mengungkap Rahasia Lailatul Qadar, semoga contoh khutbah jumat lengkap ini dapat bermanfaat bagi anda semua terutama bagi para da'i, ustadz, kiyai dan para ulama dengan tidak mengenyampingkan etika dalam berkhutbah sesuai dengan forsi dan pedoman ilmu fiqh yang mumpuni. Selamat membaca dan mengamalkan.

Contoh Teks Ceramah Khutbah Bulan Ramadhan - Mengungkap Rahasia Lailatul Qadar
 
Khutbah ka Satu

اَلْحَمْدُ للهِ وَحْدَهُ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرُ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا   أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَلَغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى اْلأَمَانَةَ وَنَصَحَ لِلأُّمَّةِ وَتَرَكَنَا عَلَى الْمَحْجَةِ الْبَيْضَاءِ لَيْلَهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغُ عَنْهَا اِلاَّ هَالِكٌ  اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ دَعَا بِدَعْوَتِهِ اِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ اللهِ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي الْخَاطِئَةِ الْمُذْنِبَةِ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. وَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ التَّنْزِيْلِ بَعْدَ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ :  شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Hadirin Rahimmakummullah ..
Pertama-tama marilah kita senantiasa memanjatkan rasa tasyakur kita ke hadirat Alloh SWT, atas segala hidayah dan ma’unahNya kepada kita sekalian, hingga kita secara sadar berkemauan untuk menjalankan kewajiban kita kepadaNya.

Rahmatulloh wasalamuhu, semoga tetap tercurahkan kepada Rasululullah SAW.
Melalui momentum ibadah shalat jum’ah, di bulan suci ramadhan ini, kami juga tak lupa menyampaikan pesan kepada hadirin sekalian untuk bersama-sama meneguhkan kembali rasa ketakwaan kita kepada Alloh SWT. Marilah kita berupaya memerdekakan diri kembali dari segala keterlanjuran kita, membiarkan diri diperbudak oleh entah apa saja selain Alloh Azza Wa jalla.

Mungkin kita telah diperbudak jabatan, kita melakukan apa saja untuk jabatan, hingga kita lupa akan Alloh SWT. Mungkin kita telah diperbudak oleh harta benda, hingga kita melakukan apa saja untuk harta benda dan melupakan Alloh SWT. Perbudakan-perbudakan inilah yang terkadang membuat kita melakukan sesuatu yang memiliki implikasi tidak saja melupakan pesan-pesan Alloh sang Maha Pencipta, namun juga mungkin merusak keharmonisan alam sekitar. Sekali lagi, marilah kita memperbaharui komitmen ketakwaan kita kepada Alloh swt, dengan selalu mengorientasikan segala perilaku kita atas dasar perintah dan larangan Alloh SWT. Diharapkan dari prinsip seperti ini, kita mampu memisahklan perbudakan-perbudakan seperti itu. Mudah-mudahan hingga saatnya Alloh SWT berkenan memanggil kita, kita dalam kondisi tetap mengingat Alloh dengan berpegang teguh pada ketakwaan ini.

Hadirin sidang jum’ah yang mulia

Bulan puasa, bagi umat islam adalah bulan yang amat berharga bagi pembentukan kesucian rohani kita. Banyak media informasi yang yang berbicara tentang kelebihan-kelebihan bulan ini.jika kita sekedar menggali berbagai fadlilah di bulan ini, nampaknya tidak begitu sulit, karena begitu massifnya media massa, lembaga-lembaga pendidikan, ceramah-ceramah mensyiarkan fadlillah bulan ini. Tentunya bagi orang yang mendapatkan hidayah dari Alloh, segala informasi yang masuk ke telinga mereka disetiap waktu dari setiap media, akan semakin menambah kedekatan dan ketakwaan mereka pada Alloh SWT. Namun sebaliknya, bagi orang yang tidak mendapatkan hidayah, sekian banyak informasi yang masuk ke telinga mereka, seolah hanya suara kosong yang tanpa makna. Mereka tidak dapat mengambil fadlillah yang ada di bulan ini, mereka pun tetap mengkoleksi berbagai kejahatan, perilaku buruk, dan mereka pun semakin jauh dari Alloh.

Naudlu billah min dzalik.

Telah jamak dikenal, bahwa di bulan ini Alloh telah menetapkan sebuah malam yang memilii keutamaan luar biasa yaitu Lailatul Qadar. Malam itu, menurut mustafa al-maraghi dalam tafsirnya disebut sebagai malam turunnya Al-Qur’an pertama kali sebelum kemudian turun berangsur-angsur selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Ada beberapa ayat al-qur’an yang dapat dijadikan landasan bagi pendapat tersebut, yang antara satu dengan yang lainnya saling menguatkan. Diantaranya: Al-Qadar 1-5, Ad-dukhan 1-5, dan Al-Baqarah 185:

Kemudian QS. Ad-dukhan (44) :

حم وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ

Artinya : “Haa miim. Demi kitab (Al-Qur’an) yang menjelaskan, Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya kami-lah yang memberi peringatan, Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul” (QS.Ad-dukhan:44:1-5)

Adapun maksud dari malam yang diberkahi ialah malam al-Qur’an pertama kali diturunkan. Di Indonesia umumnya dianggap jatuh pada tanggal 17 Ramadhan.

Kemudian QS.al-Baqarah (2):185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Artinya : “(Beberapa hari yang di tentukan itu ialah) bulan Ramadhan bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk-petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.

Beberapa ayat diatas semua bercerita tentang diturunkannya al-Qur’an pada sebuah malam yang penuh berkah, yang kemudian di kenal dengan nama Lailatul Qadar. Surah al-Qur’an dengan jelas menyatakan bahwa masa diturunkannya al-Qur’an adalah pada malam Lailatul Qadar, sedangkan ayat pada surah ad-Dukhan berpungsi sebagai penguat dari ayat pertama dan menjelaskan pula bahwa al-Qur’an ditrunkan pada malam Lailatul Qadar, kemudian surah al-Baqarah menjelaskan tentang al-Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadhan. Sedangkan pada surah al-Anfal menjelaskan bahwa al-Qur’an diturunkan kepad Rasulullah SAW pada malam yang sama dengan bertemunya dua golongan pasukan dalam perang badar. Yaitu pada suatu hari, dimana Alloh memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Pada saat itu, umat muslim mendapat kemenangan atas tentara kafir. Saat itu menunjuk 17 Ramadhan. Berdasarkan penafsiran dari berbagai ayat yang saling mendukung ini, al-Maraghi berpendapat bahwa turunnya al-Qur’an pertama kali adalah malam jum’at tanggal 17 Ramadhan.

Sebagai umat yag beriman, tentu tidak ada ruang bagi kita untuk tidak meyakini tentang Lailatul Qadar, karena informasi tersebut telah tertuliskan dalam al-Qur’an. Namun disamping pendapat al-maraghi diatas, para ulama berbeda pendapat,  tentang kapan sebenarnya malam Lailatul qadar ini terjadi. Syaikh Ali Ahmad Al-Jurjawi, mencatat seputar perbedaan pendapat malam Lailatul qadar. Menurutnya, ada sebagian ulama berpendapat bahwa, Lailatul qadar terjadi di salah satu malam dari bulan Ramadhan (antara tanggal 1-30 Ramadhan).

Pendapat ini mendasasrkan pada kenyataan, tidak ada keterangan yang sharih terhadap tanggal terjadinya Lailatul Qadar. Sebagian lagi berpendapat bahwa Lailatul Qadar terjadi di 10 hari terakhir pada bulan ganjil di bulan Ramadhan. Pendapat ini mendasarkan pada kenyataan, meskipun tidak ada keterangan yang sharih tentang waktu terjadinya malam tersebut, namun Rasulullah SAW pernah memerintahkan kepada sahabat untuk menseriusi melakukan peribadahan di malam-malam sepuluh terakhir  pada bulan Ramadhan,khususnya di malam ganjil. Dan para sahabatpun berduyun-duyun untuk melakukan anjuran Rasulullah Saw itu.
Hadirin sekalian rahimmakumullah,,

Jika kita menyimak catatan Al-Jurjawi tersebut, tentunya patut ditelusuri lebih lanjut, mengapa lailatul Qadar tidak di informasikan oleh Alloh secara sharih. Seolah-olah Alloh SWT telah merahasiakan malam yang penuh berkah ini, hingga umat muslim tidak dapat dengan mudah mendapatkan kemuliaan malam ini, yang konon lebih mulia seribu bulan bagi mereka yang menemukan dan menggunakannya untuk ibadah pada Alloh swt.

Dalam kitab Hikmatu  al-tasyri’ wa falsafatuhu, al-Jurjawi berpendapat, justru karena kerahasiaannya itulah, malam Lailatul Qadar menarik untuk selalu diwacanakan. Hikmah dari kerahasiaan ini menurutnya : agar manusia dapat menghargai hari-hari dalam setahun penuh bagi yang berpendapat bahwa Lailatul Qadar bisa terjadi di semua hari dalam setahun, sehingga hari-hari manusia selalu digunakan untuk mengaharap akan datangnya kemurahan Alloh swt. Sangat boleh jadi,jika lailatul qadar ditentukan dalam satu malam tertentu dengan sharih manusia akan terlenakan di hari-hari yang lain di luar lailatul qadar.

Hikmah kedua, kerahasiaan ini dimaksudkan agar manusia bersungguh-sungguh   melakukan ibadah kepada Alloh SWT. Kesungguhan beribadah yang di realisasikan tidak hanya pada saat-saat tertentu, namun juga direalisasikan sepanjang hayatnya. Sehingga manusia dapat memelihara istiqamahnya dalam melakukan pengabdian kepada Alloh SWT. Ini berbeda dengan,jika Lailatul Qadar ditentukan pada hari tertentu. Manusia akan mudah terlepas  dari istiqamahnya dalam beribadah. Pemeliharaan istiqamah dalam beribadah ini menjadi penting, mengingat, bahwa keimanan manusia sangat fluktuatif. Suatu saat mungkin keimanan mereka dalam kondisi frima, hingga mereka gampang mengingat Alloh, namun pada waktu yang lain mungkin keimanan mereka dalam kondisi buruk, hingga mereka melupakan Alloh SWT. Dalam kondisi seperti inilah, diperlukan upaya yang sungguh-sungguh agar keimanan kita tetap frima.

Hadirin sekalian Rahimmamukullah.

Mensikapi turunnya malam lailatul qadar di bulan Ramadhan ini, disamping kita berupaya untuk mendekatkan diri pada Alloh SWT, tak kalah pentingnya kita mencoba merenungkan makna tersirat dibalik pengagungan Alloh SWT pada bulan ini.  Alloh begitu murah dalam bahasa bisnisnya, “ mengobral” kasih sayangnya pada manusia. Ibarat manusia yang mengadakan pameran dengan obral murahnya dalam rangka memperingati hari-hari tertentu, tentu di balik pengagungan lailatul qadar tersebut terkandung sebuah peristiwa yang maha penting bagi manusia. Penghargaan Alloh pada sebuah malam, dimana aturan untuk kemaslahatan manusia diturunkan, memberi kesan bahwa betapa sangat pentingnya aturan tersebut untuk kehidupan umat manusia. Jika kita sedikit merenung tentang potensi manusia, tidak syak lagi, bahwa manusia memiliki kelemahan yang luar biasa dalam hal menemukan kemaslahatan yang hakiki. Disamping itu, manusia pun sangat membutuhkan sandaran yang kuat untuk memback up diri mereka ketika berhadapan dengan sesuatu yang mengancam. Maka, perlu panduan yang pasti agar mereka tidak berada pada kondisi yang terombang ambing. Al-Qur’an hadir sebagai panduan tersebut.

Sungguh amat mulia bagi umat manusia yang meyakini al-Qur’an adalah panduan hidupnya dan dengan itu kemudian mempelajarinya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Percayalah bahwa, hanya al-Qur’anlah yang dapat menyelamatkan kita sekalian dari segala kerusakan baik kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Kemantapan kita dalam mengikuti al-Qur’an adalah jaminan bagi keselamatan kita dalam mengarungi kehidupan dunia dan juga kehidupan akhirat. Begitu juga sebaliknya, kebebalan kita dan keengganan kita untuk mempelajari dan kemudian mengamalkan kandungan al-qur’an adalah jaminan bagi kerusakan kita baik di dunia lebih-lebih di akhirat. Mudah-mudahan  kita sekalian dapat dengan istiqamah mengikuti petujuk al-Qur’an.
Amiiin......

اقــول قـولي هذا واســتغـفـرالله لي ولكم ولجميـع المســلمين والمســلمات انه هــو الـغـفـور الـرحيـم

Khutbah ka dua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمن سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَأَمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ ؛ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ : اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَ يَرَاهُ  اللهم اغـفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الاحياء منهم والاموات اللهم اعـز الاسلام والمسلمين واهلك الكفرة والمشركين ودمر اعدائنا واعدائك اعداء الدين بحق رب العالمين ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار برحمتك يا ارحم الراحمين والحمد لله رب العالمين 
 عباد الله ان الله يأمر بالعدل والاحسان وايتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون ولذكر الله اكبر استغفرالله لي ولكم
 

Advertisement